Home » » Macam - Macam dan Jenis THARIQAT

Macam - Macam dan Jenis THARIQAT


Sumber artikel : http://www.syukrie.co.cc
Dalam ilmu tasawuf di terangkan, bahwa arti Thoriqoh ialah jalan atau petunjuk atau perbuatan untuk melaksanakan suatu ibadah sesuai dengan yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rosulallah Saw. Serta dikerjakan oleh para shahabat, diteruskan oleh para Tabi’in, para Tabi’it Tabi’in, dan seterusnya turun temurun sampai kepada guru-guru Mursyid, para Ulama secara bersambung dan berantai hingga pada masa sekarang.
Allah SWT ber-Firman yang kurang lebih artinya: “Dan bahwasannya jikalau mereka tetap berjalan lurus (berthoriqoh) diatas jalan yang benar, niscaya Aku (Allah SWT) akan memberikan pada mereka minuman yang menghilangkan haus (thoriqoh yang menghilangkan kesesatan)”. (Q.S Al-Jin :16) Dengan demikian, jelas ajaran thoriqoh itu mempunyai sumber dari al-Qur’an dan sunnah Rosul. Mempunyai persambungan (silsilah) tentang bai’at dengan shahabat Abu Bakar as-Shiddiq r.a dan dengan shahabat Ali bin Abi Thalib k.w. Kedua shahabat inilah yang menerima ilmu tersebut secara khusus dengan bai’at (talqin) langsung dari Rosulallah Saw yang diterimanya dari Allah SWT dengan perantara Malaikat Jibril a.s. Menurut Syaikh Abdul Wahid Yahya : “Thoriqoh itu ialah jalur-jalur yang bertolak dari banyak daerah menuju ke satu markas. Markasnya yaitu Al-qur’anul Karim dan Sunnatus Syahibah”. Kesimpulannya: “Thoriqoh dan hakikat itu jika berkumpul keduanya dinamakan Tasawuf. Tasawuf itu bukan aliran (madzhab), tapi tasawuf itu hakikat yang mutlak. Dan thoriqoh itu jalan untuk meraih Ridho dari Allah Azza wa Jalla”.
Diterangkan diatas bahwa Thoriqoh artinya adalah jalan atau cara. Yaitu cara yang ditempuh oleh seseorang dalam melakukan syari’at Islam dalam rangka pendekatannya pada Allah SWT. Jadi orang yang ber Thoriqoh adalah orang yang melaksanakan hukum Syari’at, lebih jelasnya Syariat itu hukum, sedangkan Thoriqoh dalam praktek / pelaksanaan dari hukum itu sendiri. Thoriqoh ada 2 ( dua) :
1.             Thoriqoh ‘Aam :
yaitu melaksanakan hukum Islam secara umum sebatas pengetahuan dan kemampuannya tanpa ada bimbingan tersendiri.

2.             Thoriqoh Khos :
yaitu melaksanakan syariat Islam melalui bimbingan lahir dan batin dari seorang guru / syeh / Mursyid / Muqoddam. Bimbingan lahir dengan cara pendidikan secara intensif tentang hukum-hukum Islam dan cara pelaksanaanya yang benar. Sedangkan bimbingan batin adalah tarbiyah rohani dari sang guru / syeh / mursyid / muqaddam dengan izin / Baiat Khusus yang sanadnya sambung sampai pada Baginda Nabi Rasulullah SAW. Thoriqoh Khos ini lebih kenal dengan Thoriqotus Sufiyah / Thoriqotul Auliya. Thoriqotus Sufiyah yang mempunyai izin dan sanad langsung dan sampai pada Rasulullah itu berjumlah 360 Thoriqoh . Sedangkan yang masuk ke Indonesia dan direkomendasikan oleh NU berjumlah 44 Thoriqoh, dikenal dengan Thoriqoh Mu’tabaroh An Nahdliyah.

B.          Macam Macam Thoriqoh
Jumlah Thoriqoh sangat banyak, akan tetapi yang memiliki anggota yang cukup banyak tersebar di banyak negara di seluruh dunia sampai kini ada tujuh, yaitu:  Khalawatiyah, Naksyabandiyah, Qadiriyah, Rifa’yah, Sammaniyah, Syaziliyah, Tijaniyah.
1.             Thoriqoh Khalawatiyah
Cabang dari Thoriqoh Aqidah Suhrardiyah yang didirikan di Baghdat oleh Abdul Qadir Suhrawardi dan Umar Suhrawardi. Mereka menamakan diri golongan Siddiqiyah karena mengklaim sebagai keturunan kahlifah Abu Bakar r.a. Khalawatiyah ini didirikan di Khurasan oleh Zahiruddin dan berhasil berkembang sampai ke Turki. Tidak mengherankan jika Thoriqoh Khalawatiyah ini banyak cabangnya antara lain; Thoriqoh Dhaifiyah di Mesir dan di Somalia dengan nama Salihiyah. Thoriqoh Khalawatiyah ini membagi manusia menjadi tujuh tingkatan:

a.      Manusia yang berada dalam nafsul ammarah Mereka yang jahil, kikir, angkuh, sombong, pemarah, gemar kepada kejahatan, dipengaruhi syahwat dan sifat-sifat tercela lainnya. Mereka ini bisa membebaskan diri dari semua sifat-sifat tidak terpuji tersebut dengan jalan memperbanyak zikir kepada Allah SWT dan mengurangi makan-minum.
Maqam mereka adalah aghyar, artinya kegelap-gulitaan.
b.      Manusia yang berada dalam nafsul lawwamah Mereka yang gemar dalam mujahaddah (meninggalkan perbuatan buruk) dan berbuat saleh, namun masih suka bermegah-megahan dan suka pamer. Cara untuk melenyapkan sifat-sifat buruk tersebut adalah mengurangi makan-minum, mengurangi tidur, mengurangi bicara, sering menyendiri dan memperbanyak zikir serta berpikir yang baik-baik.
Maqam mereka adalah anwar, artinya cahaya yang bersinar.
c.       Manusia yang berada dalam nafsul mulhamah Mereka yang kuat mujahaddah dan tajrid, karena ia telah menemui isyarat-isyarat tauhid, namun belum mampu melepaskan diri dari hukum-hukum manusia. Cara untuk melepaskan kekurangannya adalah dengan jalan menyibukkan batinnya dalam Hakikat Iman dan menyibukkan diri dalam Syari’at Islam. Maqam mereka adalah kamal, artinya kesempurnaan.
d.      Manusia yang berada dalam nafsul muthma’innah Mereka yang tidak sedikit pun meninggalkan ajaran Islam, mereka merasa nyaman jika berakhlak seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dan merasa belum tentram hatinya jika belum mengikuti petunjuk dan sabda Beliau. Manusia seperti ini sangat menyenangkan siapa pun yang melihatnya dan mengajaknya berbicara.
e.       Manusia yang berada dalam nafsul radhiyah Mereka yang sudah tidak menggantungkan diri kepada sesama manusia, melainkan hanya kepada Allah SWT. Mereka umumnya sudah melepaskan sifat-sifat manusia biasa. Maqam mereka adalah wisal, artinya sampai dan berhubungan.
f.       Manusia yang berada dalam nafsul mardhiyah Mereka yang telah berhasil meleburkan dirinya ke dalam kecintaan khalik dan khalak, tidak ada penyelewengan dalam syuhudnya. Ia menepati segala janji Tuhan dan meletakkan segala sesuatu pada tempatnya. Maqam mereka adalah tajalli af’al, artinya kelihatan Tuhan.
g.      Manusia yang berada dalam nafsul kamillah
Mereka yang dalam beribadah menyertakan badannya, lidahnya, hatinya dan anggota-anggota tubuhnya yang lain. Mereka ini banyak beristighfar, banyak ber-tawadhu’ (rendah hati atau tidak suka menyombongkan diri). Kesenangan dan kegemarannya adalah dalam tawajjuh khalak.
Maqam mereka adalah tajalli sifat, artinya tampak nyata segala sifat Tuhan.
2.             Thoriqoh Naksyabandiyah
Pendiri Thoriqoh Naksyabandiyah ialah Muhammad bin Baha’uddin Al-Huwaisi Al Bukhari (717-791 H). Ulama sufi yang lahir di desa Hinduwan – kemudian terkenal dengan Arifan, beberapa kilometer dari Bukhara. Pendiri Thoriqoh Naksyabandiyah ini juga dikenal dengan nama Naksyabandi yang berarti lukisan, karena ia ahli dalam memberikan gambaran kehidupan yang ghaib-ghaib. Kata ‘Uwais’ ada pada namanya, karena ia ada hubungan nenek dengan Uwais Al-Qarni, lalu mendapat pendidikan kerohanian dari wali besar Abdul Khalik Al-Khujdawani yang juga murid Uwais dan menimba ilmu Tasawuf kepada ulama yang ternama kala itu, Muhammad Baba Al-Sammasi. 
Thoriqoh Naksyabandiyah mengajarkan zikir-zikir yang sangat sederhana, namun lebih mengutamakan zikir dalam hati daripada zikir dengan lisan.
Ada enam dasar yang dipakai sebagai pegangan untuk mencapai tujuan dalam Thoriqoh ini, yaitu:
a.       Tobat
b.      Uzla (Mengasingkan diri dari masyarakat ramai yang dianggapnya telah mengingkari ajaran-ajaran Allah dan beragam kemaksiatan, sebab ia tidak mampu memperbaikinya).
c.       Zuhud (Memanfaatkan dunia untuk keperluan hidup seperlunya saja)
d.      Taqwa
e.       Qanaah (Menerima dengan senang hati segala sesuatu yang dianugerahkan oleh Allah SWT)
f.       Taslim (Kepatuhan batiniah akan keyakinan qalbu hanya pada Allah)
Hukum yang dijadikan pegangan dalam Thoriqoh Naksyabandiyah ini juga ada enam, yaitu:
a.       Zikir
b.      hawa nafsu
c.       Meninggalkan kesenangan duniawi
d.      Melaksanakan segenap ajaran agama dengan sungguh-sungguh
e.       Senantiasa berbuat baik (ihsan) kepada makhluk Allah SWT
f.       Mengerjakan amal kebaikan
3.             Thoriqoh Qadiriyah
Pendiri Thoriqoh Qadiriyah adalah Syeikh Abduk Qadir Jailani, seorang ulama yang zahid, pengikut mazhab Hambali. Ia mempunyai sebuah sekolah untuk melakukan suluk dan latihan-latihan kesufian di Baghdad. Pengembangan dan penyebaran Thoriqoh ini didukung oleh anak-anaknya antara lain Ibrahim dan Abdul Salam. Sebagaimana Thoriqoh yang lain, Qadiriyah juga memiliki dan mengamalkan zikir dan wirid tertentu. 
Sejak kecil, Syeikh Abdul Qadir telah menunjukkan tanda-tanda sebagai Waliyullah yang besar. Ia adalah anak yang sangat berbakti pada orang tua, jujur, gemar belajar dan beramal serta menyayangi fakir miskin dan selalu menjauhi hal0hal yang bersifat maksiat. Ia memang lahir dan dididik dalam keluarga yang taat karena ibunya yang bernama Fatimah dan kakeknya Abdullah Sum’i adalah wali Allah SWT.
Syeikh Abdul Qadir Jailani dikaruniai oleh Allah SWT keramat sejak masih muda, sekitar usia 18 tahun. Dikisahkan dalam manaqib (biografi) beliau bahwa ketika ia akan membajak sawah, sapi yang menarik bajak mengatakan kepadanya, “Engkau dilahirkan ke dunia bukan untuk kerja begini.” Peristiwa yang mengejutkan ini mendorongnya untuk bergegas pulang. Ketika ia naik ke aatas atap rumah, mata batinnya melihat dengan jelas suatu majelis yang sangat besar di Padang Arafah. Setelah itu ia memohojn kepada ibunya agar membaktikan dirinya kepada Allah SWT dan berkenan mengirimkannya ke kota Baghdad yang kala itu menjadi pusat ilmu pengetahuan yang terkenal bagi kaum muslimin. Dengan sangat berat hati ibunya pun mengabulkannya.
Suatu hari bergabunglah Abdul Qadir Jailani dengan kafilah yang menuju Baghdad. Ketika hampir sampai di tujuan, kafilah ini dikepung oleh sekawanan perampok. Semua harta benda milik kafilah dirampas, kecuali bekal yang dibawa oleh Abdul Qadir Jailani. Salah seorang kawanan perampok kemudian mendatanginya dan bertanya, “Apa yang engkau bawa?” Dengan jujur Abdul Qadir Jailani menjawab, “Uang empat puluh dinar.”
Perampok itu membawa Abdul Qadir Jailani menghadap pimpinannya dan menceritakan tentang uang empat puluh dinar. Pemimpin perampok itu pun segera meminta uang yang empat puluh dinar tadi, namun ia merasa terpesona oleh kepribadian Abdul Qadir Jailani. “Mengapa engkau berkata jujur tentang uang ini?” Dengan tenang Abdul Qadir Jailani, “Saya telah berjanji kepada ibu untuk tidak berbohong kepada siapapun dan dalam keadaan apapun.
Seketika pemimpin perampok tersebut terperangah, sejenak kemudian ia menangis dan menyesali segala perbuatan zalimnya. “Mengapa saya berani terus-menerus melanggar peraturan Tuhan, sedangkan pemuda ini melanggar janji pada ibunya sendiri saja tidak berani.” Ia kemudian memerintahkan semua barang rampasan kepada pemiliknya masing-masing dan sejak itu berjanji untuk mencari rezeki dengan jalan yang halal.
Semasa Abdul Qadir Jailani masih hidup, Thoriqoh Qadiriyah sudah berkembang ke beberapa penjuru dunia, antara lain ke Yaman yang disiarkan oleh Ali bin Al-Haddad, di Syiria oleh Muhammad Batha’, di Mesir oleh Muhammad bin Abdus Samad serta di Maroko, Turkestan dan India yang dilakukan oleh anak-anaknya sendiri. Mereka sangat berjasa dalam menyempurnakan Thoriqoh Qadiriyah. Mereka pula yang menjadikan thoriqoh ini sebagai gerakan yang mengumpulkan dan menyalurkan dana untuk keperluan amal sosial.
4.              Thoriqoh Rifa’yah
Pendirinya Thoriqoh Rifaiyah adalah Abul Abbas Ahmad bin Ali Ar-Rifai. Ia lahir di Qaryah Hasan, dekat Basrah pada tahun 500 H (1106 M), sedangkan sumber lain mengatakan ia lahir pada tahun 512 H (1118 M). Sewaktu Ahmad berusia tujuh tahun, ayahnya meninggal dunia. Ia lalu diasuh pamannya, Mansur Al-Batha’ihi, seorang syeikh Trarekat. Selain menuntut ilmu pada pamannya tersebut ia juga berguru pada pamannya yang lain, Abu Al-Fadl Ali Al Wasiti, terutama tentang Mazhab Fiqh Imam Syafi’i. Dalam usia 21 tahun, ia telah berhasil memperoleh ijazah dari pamannya dan khirqah 9 sebagai pertanda sudah mendapat wewenang untuk mengajar. 
Ciri khas Thoriqoh Rifaiyah ini adalah pelaksanaan zikirnya yang dilakukan bersama-sama diiringi oleh suara gendang yang bertalu-talu. Zikir tersebut dilakukannya sampai mencapai suatu keadaan dimana mereka dapat melakukan perbuatan-perbuatan yang menakjubkan, antara lain berguling-guling dalam bara api, namun tidak terbakar sedikit pun dan tidak mempan oleh senjata tajam.

5.             Thoriqoh Sammaniyah
Kemunculan Thoriqoh Sammaniyah bermula dari kegiatan Syeikh Muhammad Saman, seorang guru masyhur yang mengajarkan Thoriqoh di Madinah. Banyak orang Indonesia terutama dari Aceh yang pergi ke sana mengikuti pengajarannya. Oleh sebab itu tidak mengherankan jika Thoriqoh ini tersebar luas di Aceh dan terkenal dengan nama Thoriqoh Sammaniyah. 
Sebagaimana guru-guru besar Tasawuf, Syeikh Muhammad Saman terkenal akan kesalehan, kezuhudan dan kekeramatannya. Salah satu keramatnya adalah ketika Abdullah Al-Basri – karena melakukan kesalahan – dipenjarakan di Mekkah dengan kaki dan leher di rantai. Dalam keadaan yang tersiksa, Al-Basri menyebut nama Syeikh Muhammad Saman tiga kali, seketika terlepaslah rantai yang melilitnya. Kepada seorang murid Syeikh Muhammad Saman yang melihat kejadian tersebut, Al-Basri menceritakan, “kulihat Syeikh Muhammad Saman berdiri di depanku dan marah. Ketika kupandang wajahnya, tersungkurlah aku pingsan. Setelah siuman, kulihat rantai yang melilitku telah terputus.”Perihal awal kegiatan Syeikh Muhammad Saman dalam Thoriqoh dan Hakikat, menurut Kitab Manaqib Tuan Syeikh Muhammad Saman, adalah sejak pertemuannya dengan Syeikh Abdul Qadir Jailani. Kisahnya, di suatu ketika Syeikh Muhammad Saman berkhalwat (bertapa) di suatu tempat dengan memakai pakaian yang indah-indah. Pada waktu itu datang Syeikh Abdul Qadir Jailani membawakan pakaian jubah putih. “Ini pakaian yang cocok untukmu.” Ia kemudian memerintahkan Syeikh Muhammad Saman agar melepas pakaiannya dan mengenakan jubah putih yang dibawanya. Konon semula Syeikh Muhammad Saman menutup-nutupi ilmunya sampai datanglah perintah dari Rasulullah SAW menyebarkannya dalam kota Madinah.
Thoriqoh Sammaniyah juga mewiridkan bacaan zikir yang biasanya dilakukan secara bersama-sama pada Malam Jum’at di masjid-masjid atau mushalla sampai jauh tengah malam. Selain itu ibadah yang diamalkan oleh Syeikh Muhammad Saman yang diikuti oleh murid-muridnya sebagai Thoriqoh antara lain adalah shalat sunnah Asyraq dua raka’at, shalat sunnah Dhuha dua belas raka’at, memperbanyak riadhah (melatih diri lahir batin untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT) dan menjauhkan diri dari kesenangan duniawi.
6.             Thoriqoh Syaziliyah
Pendiri Thoriqoh Syaziliyah adalah Abdul Hasan Ali Asy-Syazili, seorang ulama dan sufi besar. Menurut silsilahnya, ia masih keturunan Hasan, putra Ali bin Abi Thalib dan Fatimah binti Rasulullah SAW. Ia dilahirkan pada 573 H di suatu desa kecil di kawasan Maghribi. Tentang arti kata “Syazili” pada namanya yang banyak dipertanyakan orang kepadanya, konon ia pernah menanyakannya kepada Tuhan dan Tuhan pun memberikan jawaban, “Ya Ali, Aku tidak memberimu nama Syazili, melainkan Syazz yang berarti jarang karena keistimewaanmu dalam berkhidmat kepada-Ku. 
Dalam jajaran sufi, Ali Syazili dianggap seorang wali yang keramat. Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa ia pernah mendatangi seorang guru untuk mempelajari suatu ilmu. Tanpa basa-basi sang guru mengatakan kepadanya, “Engkau mendapatkan ilmu dan petunjuk beramal dariku? Ketahuilah, sesungguhnya engkau adalah salah seorang guru ilmu-ilmu tentang dunia dan ilmu-ilmu tentang akhirat yang terbesar.” Kemudian pada suatu waktu, ketika ingin menanyakan tentang Ismul A’zam kepada gurunya, seketika ada seorang anak kecil datang kepadanya, “Mengapa engkau ingin menanyakan tentang Ismul A’zam kepada gurumu? Bukankah engkau tahu bahwa Ismul A’zam itu adalah engkau sendiri?” Thoriqoh Syaziliyah merupakan Thoriqoh yang paling mudah pengamalannya. Dengan kata lain tidak membebani syarat-syarat yang berat kepada Syeikh Thoriqoh. Kepada mereka diharuskan:
a.    Meninggalkan segala perbuatan maksiat.
b.    Memelihara segala ibadah wajib, seperti shalat lima waktu, puasa Ramadhan dan lain-lain.
c.    Menunaikan ibadah-ibadah sunnah semampunya.
d.   Zikir kepada Allah SWT sebanyak mungkin atau minimal seribu kali dalam sehari semalam dan beristighfar sebanyak seratus kali sehari-semalam dan zikir-zikir yang lain.
e.    Membaca shalawat minimal seratus kali sehari-semalam dan zikir-zikir yang lain.


7.             Thoriqoh Tijaniyah
Pendiri Thoriqoh Tijaniyah ialah Abdul Abbas bin Muhammad bin Muchtar At-Tijani (1737-1738), seorang ulama Algeria yang lahir di ‘Ain Mahdi. Menurut sebuah riwayat, dari pihak bapaknya ia masih keturunan Hasan bin Ali bin Abu Thalib. Keistimewaannya adalah pada saat ia berumur tujuh tahun, Konon Tijani sudah menghapal Alqur’an, kemudian mempelajari pengetahuan Islam yang lain, sehingga ia menjadi guru dalam usia belia. 
Ketika naik haji di Madinah, Tijani berkenalan dengan Muhammad bin Abdul Karim As-Samman, pendiri Thoriqoh Sammaniyah. Setelah itu ia mulai mempelajari ilmu-ilmu rahasia batin. Gurunya yang lain dalam bidang Thoriqoh ini ialah Abu Samghun As-Shalasah. Dari sinilah pandangan batinnya mulai terasah. Bahkan konon dalam keadaan terjaga ia bertemu Nabi Muhammad SAW yang mengajarkan kepadanya beberapa wirid, istighfar dan shalawat yang masing-masing harus diucapkan seratus kali dalam sehari semalam. Selain itu Nabi Muhammad SAW juga memerintahkan agar Tijani mengajarkan wirid-wirid tersebut kepada semua orang yang menghendakinya.
Wirid-wirid yang harus diamalkan dalam Thoriqoh Tijaniyah sangat sederhana, yaitu terdiri dari istighfar seratus kali, shalawat seratus kali dan tahlil seratus kali. Semua wirid tersebut boleh diamalkan dua waktu sehari yaitu pagi setelah Shalat Shubuh dan sore setelah Shalat Ashar.
Share this article :

0 komentar:

Google+ Followers

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © Nopember 2010. MAKRIFAT LIBERAL - All Rights Reserved
Template Created by M Imron Pribadi Published by Makrifat Business Online - Offline
Proudly powered by imronpribadi